banner 970x250
Musik  

Festival PAPPRI DKI Jakarta 2026 Angkat Keberagaman Musik, Ussy Pieters Bidik Panggung yang Lebih Besar

banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA — Keberagaman genre dan semangat menjaga keberlangsungan musik Indonesia menjadi warna utama Festival Parade Band se-Jabodetabek 2026 yang berlangsung di Concert Hall Deheng House, Jalan Taman Kemang No. 32, Jakarta Selatan, Minggu (25/10/2026). Sebanyak 24 band ambil bagian dalam perhelatan yang digagas DPD PAPPRI DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Ussy Pieters.

Festival ini mempertemukan musisi dari berbagai latar belakang dengan karakter musik yang beragam. Keroncong, pop, jazz, rock, dangdut, Melayu, R&B, funky soul, salsa, hingga latin hadir dalam satu rangkaian pertunjukan. Sejumlah lagu dari The Beatles, Santana, God Bless, dan Koes Plus turut dibawakan, menghadirkan perpaduan repertoar lintas generasi.

banner 325x300

Ketua DPD PAPPRI DKI Jakarta, Ussy Pieters, menegaskan bahwa festival tersebut dirancang sebagai wadah untuk menghidupkan kembali semangat para musisi sekaligus mempererat hubungan di antara mereka. Menurutnya, industri musik membutuhkan ruang pertemuan yang memungkinkan para pelakunya tetap aktif, saling mendukung, dan terus mengembangkan kreativitas.

“Jadi, sebenarnya saya membuat acara ini untuk mengangkat para musisi. Kita silaturahmi, jadi bukan sekadar event. Setelah dampak pandemi kemarin, banyak musisi yang sempat vakum. Makanya, saya ingin mengajak mereka untuk tetap semangat dan terus berkarya,” kata Ussy.

Ia menambahkan, keberagaman penampil menjadi salah satu kekuatan festival. Dengan mempertemukan banyak genre dalam satu acara, para musisi memiliki kesempatan untuk memperluas wawasan dan mengenal karakter bermusik yang berbeda.

“PAPPRI itu kan musik. Jadi, gebrakan pertama saya adalah mengadakan acara ini. Ada 24 band dengan macam-macam genre. Ada keroncong, dangdut, Melayu, latin, sampai lagu-lagu Santana. Semuanya kita satukan di sini,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal DPP PAPPRI, Dwiki Darmawan, yang hadir mewakili Ketua Umum PAPPRI Tony Wenas, menyambut positif penyelenggaraan parade tersebut. Ia menilai kegiatan musik seperti ini dapat mendorong kreativitas, memperluas jejaring, dan membuka peluang regenerasi bagi para pelaku industri musik.

“Festivalnya bukan sekadar ada tampil kemampuan, tapi juga membangun kreativitas dan memperluas jejaring serta memiliki kesempatan untuk regenerasi,” tutur Dwiki.

Ia juga mengingatkan bahwa musik memiliki peran strategis dalam kehidupan berbangsa. Musik tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat memperkuat kebudayaan, menggerakkan industri kreatif, dan menyatukan masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.

“Mari kita jadikan bukan hanya sebagai hiburan, tapi juga kekuatan budaya, industri kreatif, dan yang paling penting pemersatu bangsa. Musik memang pemersatu bangsa. Dengan musik kita selalu bersatu,” katanya.

Dukungan terhadap festival juga disampaikan Tina Permatasari, Ketua Biro Hubungan Pemerintahan dan Kelembagaan DPD PAPPRI DKI Jakarta. Ia menilai keterlibatan puluhan band dalam satu panggung menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi sekaligus membangun kembali geliat musik Indonesia.

“Gebrakan dari ketua kita, Ibu Ussy Pieters, luar biasa sekali. Dengan adanya parade festival musik dari seluruh band, sebanyak 24 band yang hari ini tampil, ini sangat luar biasa. Jadi ajang silaturahmi untuk para musisi dan agar lebih kreatif untuk menghidupkan lagi musik Indonesia,” ujar Tina.

Menurut Tina, penyelenggaraan festival diharapkan berkembang pada tahun-tahun berikutnya. DPD PAPPRI DKI Jakarta juga merencanakan kegiatan lanjutan, termasuk agenda untuk memperingati Hari Musik Nasional pada Maret.

“Mungkin kalau sekarang ini 24 band, tahun depan kita akan naik lagi paradenya, tentunya dengan arahan dari Ibu Ketua kami,” katanya.

Di sisi lain, perkembangan teknologi menjadi tantangan yang perlu diperhatikan para pelaku musik. Ketua Umum Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia (IPJI), Dr. Ir. Kun Wardana Abyoto, M.T., mengingatkan pentingnya pemahaman terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), terutama dalam kaitannya dengan proses kreatif dan perlindungan hak cipta.

“Para seniman harus bisa belajar AI supaya tidak tergeser oleh AI. Sangat penting juga bagaimana kita melindungi para kreator musik agar hak ciptanya tidak dengan mudah diambil,” kata Kun Wardana.

Ia menekankan bahwa teknologi semestinya menjadi alat untuk membantu seniman mengembangkan karya, sementara kreativitas manusia tetap menjadi inti dari proses penciptaan musik.

“Saya meyakini bahwa kekuatan seni itu ada pada manusia. AI adalah alat bantu untuk mendorong karya seni menjadi masterpiece yang jauh lebih bagus dari sebelumnya,” ujarnya.

Kun Wardana juga memandang musik sebagai sarana untuk mempertahankan budaya dan kearifan lokal Indonesia agar dapat dikenal lebih luas hingga tingkat internasional. Sementara itu, Rizki Bustomi dari Perpustakaan Nasional RI menyoroti musik sebagai bagian dari literasi yang dapat menjadi media komunikasi dan penyampaian informasi kepada masyarakat.

Festival tersebut turut menghadirkan Ussy Pieters PAPPRI Choir yang membawakan lagu “Sampai Kapan” dan “Calypso”. Lagu “Sampai Kapan” merupakan single solo Ussy yang mengangkat refleksi spiritual tentang kehidupan dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Untuk agenda mendatang, Ussy berencana mengembangkan konsep festival dengan menghadirkan lagu-lagu era 1970-an. Rencana tersebut menjadi salah satu upaya untuk memberikan warna baru pada kegiatan musik sekaligus membuka ruang bagi repertoar lintas generasi.

“Harapan saya, musisi tetap berkarya dan maju terus. Mudah-mudahan bisa berkembang di tingkat nasional maupun internasional,” ungkap Ussy.

Melalui Festival Parade Band se-Jabodetabek 2026, DPD PAPPRI DKI Jakarta berharap dapat terus menghadirkan ruang pertunjukan yang mendorong musisi untuk berkembang. Dengan semangat kebersamaan dan keberagaman, festival ini diharapkan menjadi bagian dari upaya menjaga ekosistem musik Indonesia agar tetap dinamis, kreatif, dan berkelanjutan.

CATATAN REDAKSI

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: indonesiakoma01@gmail.com.
Terima kasih.
______________________

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *