banner 970x250

Jangan Bangun Kampus Baru, Bangunlah Masa Depan Anak Bangsa

Mengapa Indonesia Lebih Membutuhkan Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Dunia Kerja daripada Membangun Kampus Baru

Avatar photo
banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Prof. Dr. Nandan Limakrisna

Pendidikan tinggi selama ini dipandang sebagai jalan utama menuju kehidupan yang lebih baik. Setiap tahun jutaan keluarga Indonesia menginvestasikan harapan, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit demi memastikan anak-anak mereka dapat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Ada yang menjual aset, menggadaikan harta, hingga meminjam dana agar putra-putrinya memperoleh gelar sarjana.

banner 325x300

Harapan itu sederhana: setelah lulus, mereka dapat bekerja secara layak, mandiri secara ekonomi, dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa.

Namun realitas sering kali berkata lain.

Tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang harus menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk memperoleh pekerjaan. Sebagian akhirnya bekerja pada bidang yang sama sekali tidak berkaitan dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya selama kuliah.

Ironisnya, pada saat yang sama banyak perusahaan, BUMN, kementerian, lembaga pemerintah, hingga pemerintah daerah justru mengaku kesulitan memperoleh tenaga kerja yang benar-benar siap pakai. Pegawai baru masih harus mengikuti berbagai pelatihan dasar sebelum mampu menjalankan tugas secara optimal.

Di sinilah paradoks pendidikan tinggi Indonesia terlihat begitu nyata.

Perguruan tinggi menghasilkan lulusan yang belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, sementara pengguna lulusan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membentuk kompetensi yang seharusnya dapat dipersiapkan sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah.

Apresiasi terhadap Gagasan, Bukan Berarti Tanpa Catatan

Ketika pemerintah menggagas pembentukan Universitas Republik Indonesia (URI), semangat yang melatarbelakanginya tentu patut diapresiasi. Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting bagi masa depan bangsa.

Namun demikian, muncul sebuah pertanyaan yang layak dipertimbangkan.

Mengapa harus membangun institusi baru apabila Indonesia sesungguhnya telah memiliki ribuan perguruan tinggi yang siap diberdayakan?

Saat ini Indonesia memiliki ribuan perguruan tinggi negeri maupun swasta, jutaan mahasiswa aktif, ratusan ribu dosen, laboratorium, pusat penelitian, jaringan akademik, hingga infrastruktur pendidikan yang telah tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Seluruh aset tersebut merupakan modal nasional yang nilainya sangat besar.

Daripada membangun ekosistem baru yang membutuhkan biaya, waktu, regulasi, serta sumber daya yang tidak sedikit, bukankah akan jauh lebih efektif apabila seluruh potensi tersebut diperkuat dan diintegrasikan dalam sebuah sistem nasional pengembangan sumber daya manusia?

Saatnya Pendidikan Berbasis Kebutuhan Nyata

Sudah saatnya paradigma pendidikan tinggi bergeser dari sekadar menghasilkan lulusan menjadi menghasilkan talenta yang benar-benar dibutuhkan.

Konsepnya sesungguhnya sederhana.

Setiap kementerian, lembaga negara, pemerintah daerah, BUMN, perusahaan swasta, rumah sakit, industri manufaktur, sektor digital, perbankan, hingga koperasi besar menyampaikan kebutuhan tenaga kerja mereka untuk lima hingga sepuluh tahun ke depan.

Berdasarkan kebutuhan tersebut, perguruan tinggi bersama mitra industri menyusun kurikulum, menentukan standar kompetensi, menghadirkan praktisi sebagai dosen, menyediakan tempat magang, hingga melakukan evaluasi secara bersama-sama.

Dengan demikian, mahasiswa tidak lagi hanya belajar teori di ruang kelas.

Mereka dipersiapkan sejak awal sebagai calon profesional yang memahami kebutuhan nyata dunia kerja.

Pendidikan menjadi lebih relevan karena apa yang dipelajari memiliki keterkaitan langsung dengan kompetensi yang akan digunakan setelah lulus.

Investasi Pendidikan Harus Dilakukan dari Hulu

Selama ini banyak instansi pemerintah maupun perusahaan mengalokasikan anggaran pelatihan yang besar setelah pegawai diterima bekerja.

Padahal sebagian anggaran tersebut sesungguhnya dapat dialihkan menjadi investasi pendidikan sejak calon tenaga kerja masih berada di perguruan tinggi.

Pendekatan ini jauh lebih efisien.

Alih-alih memperbaiki kompetensi setelah seseorang menjadi pegawai, negara dan dunia usaha dapat bersama-sama membangun kompetensi tersebut sejak proses pendidikan berlangsung.

Artinya, investasi dilakukan di hulu, bukan di hilir.

Dampaknya tentu jauh lebih besar.

Mahasiswa memperoleh pengalaman nyata sebelum lulus.

Perguruan tinggi memperoleh kemitraan yang kuat.

Perusahaan mendapatkan tenaga kerja yang siap bekerja.

Sementara pemerintah memperoleh sumber daya manusia yang lebih produktif tanpa harus mengeluarkan biaya pelatihan dasar yang berulang.

Perguruan Tinggi Harus Bersaing dalam Kualitas Lulusan

Kolaborasi nasional seperti ini akan menciptakan ekosistem pendidikan tinggi yang sehat.

Calon mahasiswa tidak lagi hanya mempertimbangkan popularitas sebuah kampus, tetapi juga memperhatikan rekam jejak kampus tersebut dalam membangun kemitraan dengan dunia usaha dan tingkat keberhasilan alumninya memperoleh pekerjaan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan perguruan tinggi bukan lagi sekadar jumlah mahasiswa baru atau banyaknya wisudawan setiap tahun.

Ukuran yang lebih relevan adalah kualitas lulusan, tingkat penyerapan tenaga kerja, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan industri, serta kontribusinya terhadap pembangunan nasional.

Kompetisi antarkampus pun akan berubah menjadi kompetisi dalam menghasilkan lulusan terbaik.

Inilah kompetisi yang sesungguhnya dibutuhkan Indonesia.

Indonesia Memerlukan Kolaborasi, Bukan Sekadar Institusi Baru

Masa depan pendidikan tinggi Indonesia tidak cukup dibangun dengan menambah jumlah institusi.

Yang lebih penting adalah membangun sistem yang mampu menghubungkan ruang kuliah dengan kebutuhan dunia kerja secara langsung.

Kampus, pemerintah, dunia usaha, dunia industri, serta masyarakat harus berada dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

Pendidikan tinggi harus menjadi bagian dari strategi pembangunan nasional, bukan sekadar tempat memperoleh ijazah.

Keberhasilan pendidikan tidak lagi cukup diukur dari jumlah lulusan, tetapi dari kemampuan para lulusan tersebut menciptakan nilai tambah, menghadirkan inovasi, membuka lapangan pekerjaan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Membangun Jembatan Menuju Masa Depan

Indonesia memiliki seluruh modal untuk mewujudkan transformasi tersebut.

Yang diperlukan bukan sekadar membangun kampus baru, melainkan membangun jembatan yang kokoh antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

Apabila pemerintah mampu mengorkestrasi kemitraan nasional antara perguruan tinggi, kementerian, lembaga negara, pemerintah daerah, BUMN, dan sektor industri, maka Indonesia akan memiliki sistem pendidikan tinggi yang lebih efisien, lebih adaptif, lebih relevan, dan lebih berdampak.

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hanya mencari selembar ijazah.

Mereka sedang mencari masa depan.

Dan masa depan itu tidak dibangun oleh gedung-gedung baru semata.

Masa depan dibangun melalui kolaborasi, keberanian mengubah paradigma, dan komitmen bersama untuk memastikan bahwa setiap lulusan perguruan tinggi benar-benar siap berkarya bagi Indonesia.


*) Nandan Limakrisna adalah Guru Besar Ilmu Manajemen di Universitas Persada Indonesia YAI (UPI YAI) yang menaruh perhatian pada kajian strategi bisnis, pemasaran, serta pengembangan ekonomi berbasis komunitas. Ia aktif menulis dan memberikan pemikiran mengenai pemberdayaan UMKM, model bisnis kolaboratif, dan penguatan ekonomi rakyat. Melalui berbagai tulisan dan forum akademik, ia juga memperkenalkan konsep Snowball Business Model (SBM) sebagai pendekatan pengembangan ekosistem ekonomi komunitas. Pemikirannya banyak menyoroti pentingnya sinergi antara industrialisasi nasional dan ekonomi rakyat dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

CATATAN REDAKSI

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: indonesiakoma01@gmail.com.
Terima kasih.
______________________

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *