JAKARTA, INDONESIAKOMA.COM –
Menurut data dari GAPKI, ekspor minyak sawit beserta turunannya, termasuk CPO, produk olahan, oleokimia, Gan biodiesel telah menembus lebih dari 25 juta ton, naik 13,4 persen dari tahun sebelumnya. Kinerja ekspor tersebut menghasilkan devisa US$ 27,3 miliar, atau melonjak 40 persen dibandingkan tahun lalu, yang sekaligus menegaskan kembali posisi sawit sebagai penyumbang devisa terbesar Indonesia.
Tidak hanya untuk pasar ekspor, konsumsi domestik minyak sawit juga meningkat dari 17,6 juta ton menjadi 18,5 juta ton, didorong oleh kebutuhan industri pangan, oleokimia, serta program energi berbasis biodiesel. Peningkatan tersebut dipicu oleh harga minyak sawit yang tidak terus menerus lebih tinggi dari harga minyak nabati lainnya. Bahkan, harga minyak sawit sempat berada di bawah harga minyak bunga matahari dan kedelai sejak April 2025.
Sementara itu, Ketegangan antara Amerika Serikat dan China dalam perang dagang beberapa tahun terakhir menyebabkan volatilitas harga komoditas dan saham di berbagai negara. Konflik geopolitik global (termasuk) Rusia-Ukraina, Iran-AS dan Israel-Palestina, juga berpotensi mengganggu rantai pasokan ekspor minyak kelapa sawit.
Beriringan dengan tekanan makro tersebut, Perseroan juga menghadapi tantangan internal pada sisi biaya, Perseroan mencatatkan kenaikan produksi Tandan Buah Segar (TBS), Crude Paim Oil (CPO), Palm Kernel (PK) dan Cangkang (Palm Shell) pada tahun ini, namun margin keuntungan belum menunjukkan hasil positif akibat lonjakan biaya operasional. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan nilai pemakaian bahan baku Tandan Buah Segar (TBS) serta intensitas perawatan kebun yang tinggi demi perbaikan infrastruktur. Selain itu, curah hujan yang ekstrem memperparah kerusakan jalan, yang berdampak langsung pada membengkaknya biaya angkutan.
Akses jalan menuju perkebunan menjadi sulit dilalui oleh armada pengangkut Tandan Buah Segar TBS, sementara beberapa blok perkebunan mengalami genangan air yang cukup luas. Kondisi ini mengharuskan Perseroan mengalokasikan biaya tambahan yang signifikan untuk perbaikan infrastruktur, termasuk rehabilitasi tanggul yang jebol serta perawatan intensif pada tanaman yang terendam. Langkah tersebut diambil guna mermnitigasi risiko kerusakan aset dan memastikan kelancaran operasional Perseroan di masa mendatang.
Di tengah tantangan tersebut, Perseroan tetap berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang positif. Penjualan bersih pada 31 Desember 2025 tumbuh sebesar 25,26%, meningkat dari Rp196,74 miliar di tahun sebelumnya menjadi Rp246,43 miliar.
Sejalan dengan kenaikan pendapatan, efisiensi yang dilakukan mulai menunjukkan hasil pada perbaikan pos laba rugi:
« Rugi Bruto: Berhasil ditekan secara signifikan dari negatif Rp11,96 miliar di tahun 2024 menjadi negatif Rp3,S miliar pada tahun 2025. – Rugi Usaha: Mengalami perbaikan sebesar 20,70%, yakni dari Rp34,70 miliar menjadi Rp27,52 miliar.
- Kinerja Perseroan 2025: Strategi Efisiensi, Ketahanan Operasional, dan Optimisme Pertumbuhan ke Depan – 2 April 2026
- Kinerja Perseroan Tahun Buku 2025 Meningkat, Pendapatan Tumbuh 25,26 Persen – 2 April 2026
- Brigjen TNI Sigit Karyadi Tekankan Keamanan dalam Perayaan Harmoni Imlek Nusantara – 28 Februari 2026



















