banner 970x250

Ekonom Pesimis, Rakyat Menunggu: Ketika Cara Membangun Ekonomi Perlu Dikoreksi

Gagasan Snowball Business Model dan pentingnya membangun pasar dari bawah sebagai alternatif pendekatan ekonomi nasional.

Avatar photo
banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Nandan Limakrisna

Belakangan ini, nada pesimisme dari kalangan ekonom terhadap arah ekonomi Indonesia semakin sering terdengar. Ada yang menyoroti tekanan fiskal, ada yang mengkhawatirkan perlambatan pertumbuhan, ada pula yang melihat ketimpangan yang belum terselesaikan. Pesimisme ini sebenarnya dapat dipahami.

banner 325x300

Mengapa?

Karena jika kita jujur melihat, banyak kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintah memang berangkat dari niat baik: mendorong pertumbuhan, menjaga stabilitas, dan meningkatkan kesejahteraan. Namun persoalannya bukan pada niat, melainkan pada pendekatan.

Kita terlalu lama membangun ekonomi dari atas.

Logika yang digunakan masih sama: injeksi dana, proyek besar, dorongan kredit, stimulus fiskal. Semua itu penting, tetapi sering kali tidak menyentuh akar persoalan di lapangan. Akibatnya, uang berputar, tetapi tidak selalu menguatkan ekonomi rakyat secara nyata.

Di sisi lain, pelaku usaha kecil—yang jumlahnya jutaan—masih menghadapi masalah klasik: tidak ada kepastian pasar.

Inilah akar masalah yang sering luput dari perhatian.

Banyak UMKM sebenarnya mampu memproduksi barang yang baik. Mereka kreatif, mereka bekerja keras. Tetapi tanpa pasar yang pasti, usaha mereka berjalan dalam ketidakpastian. Dalam kondisi seperti ini, tambahan modal atau kredit justru menjadi beban, bukan solusi.

Tidak heran jika ekonomi terlihat “bergerak”, tetapi pelaku di bawah masih merasa stagnan.

Dalam beberapa tahun terakhir, saya mencoba menyuarakan satu gagasan sederhana: ekonomi Indonesia harus dibangun dari bawah, bukan hanya dari atas. Salah satu pendekatan yang saya tawarkan adalah Snowball Business Model (SBM).

Model ini sederhana tetapi fundamental. Anggota masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen dan promotor dalam satu jaringan ekonomi yang saling terhubung. Dengan demikian, pasar tidak lagi bergantung pada faktor eksternal, tetapi dibangun dari dalam komunitas itu sendiri.

Ketika anggota saling membeli, saling mempromosikan, dan saling mendukung, maka terbentuklah ekosistem ekonomi yang stabil. Usaha kecil tidak lagi berjalan sendiri, tetapi tumbuh bersama dalam jaringan.

Saya telah menyampaikan gagasan ini melalui berbagai forum, termasuk media sosial dan tulisan di surat kabar nasional. Namun harus diakui, gagasan seperti ini sering kali tidak dianggap serius.

Mungkin karena terlalu sederhana.
Mungkin karena tidak melibatkan angka triliunan.
Atau mungkin karena tidak datang dari sistem yang sudah mapan.

Padahal sering kali solusi besar justru berangkat dari ide yang sederhana.

Jika kita terus mengandalkan pendekatan lama—mendorong ekonomi dari atas tanpa memperkuat fondasi di bawah—maka pesimisme para ekonom akan terus berulang. Bukan karena bangsa ini tidak mampu, tetapi karena cara yang digunakan belum menyentuh akar persoalan.

Ekonomi yang kuat bukan hanya soal angka pertumbuhan, tetapi tentang seberapa banyak rakyat yang terlibat di dalamnya.

Jika rakyat hanya menjadi penonton, maka pertumbuhan akan terasa jauh.
Jika rakyat menjadi pelaku, maka pertumbuhan akan terasa nyata.

Di sinilah pentingnya keberanian untuk mencoba pendekatan baru.

Snowball Business Model bukan satu-satunya solusi, tetapi menawarkan arah yang jelas: membangun pasar dari dalam, memperkuat jaringan ekonomi rakyat, dan menjadikan kepercayaan sebagai modal utama.

Pertanyaannya sekarang sederhana:

Apakah kita akan terus bertahan pada cara lama yang hasilnya sudah kita ketahui, atau berani mencoba cara baru yang mungkin membawa perubahan?

Sejarah ekonomi selalu menunjukkan bahwa lompatan besar terjadi ketika ada keberanian untuk berpikir berbeda.

Dan mungkin, saat ini, yang dibutuhkan Indonesia bukan hanya kebijakan baru, tetapi cara berpikir baru dalam membangun ekonomi bangsa.


Nandan Limakrisna adalah Guru Besar Ilmu Manajemen di Universitas Persada Indonesia YAI (UPI YAI) yang menaruh perhatian pada kajian strategi bisnis, pemasaran, serta pengembangan ekonomi berbasis komunitas. Ia aktif menulis dan memberikan pemikiran mengenai pemberdayaan UMKM, model bisnis kolaboratif, dan penguatan ekonomi rakyat. Melalui berbagai tulisan dan forum akademik, ia juga memperkenalkan konsep Snowball Business Model (SBM) sebagai pendekatan pengembangan ekosistem ekonomi komunitas. Pemikirannya banyak menyoroti pentingnya sinergi antara industrialisasi nasional dan ekonomi rakyat dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

CATATAN REDAKSI

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: indonesiakoma01@gmail.com.
Terima kasih.
______________________

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *