INDONESIAKOMA.COM, JAKARTA —
Pementasan drama Nabila yang digelar oleh Sanggar Pelakon di Gedung Kesenian Jakarta pada 19–20 Desember 2025 berhasil menghadirkan tontonan teater yang sarat makna, tidak hanya dari sisi dramaturgi, tetapi juga dalam refleksinya terhadap persoalan sosial kontemporer, khususnya kesetaraan gender. Drama tiga babak ini disutradarai oleh Jose Rizal Manua dan berdasarkan naskah karya sastrawan besar Asrul Sani.
Gedung Kesenian Jakarta, bangunan bersejarah yang sejak 1821 menjadi pusat pertunjukan seni di ibu kota, menjadi panggung utama bagi produksi ini. Gedung yang dikenal dengan arsitektur Indische Empire ini menyuguhkan latar estetika klasik yang kental bagi para penikmat teater untuk menyimak kisah Nabila.
Dalam pementasan ini, karakter Marta, diperankan dengan penuh intensitas oleh Ayu Basir Nurdin, menjadi pusat konflik yang kompleks. Marta digambarkan sebagai sosok yang setia pada sahabat namun juga ambisius, bersahaja di luar namun menyimpan kejutan emosional di dalam. Perjalanan emosinya mencapai puncak ketika pertemuan kembali dengan Suminta, mantan kekasihnya, yang membawa perubahan dramatis dalam alur cerita.
“Marta bukan sekadar karakter, ia adalah cermin dari pergulatan batin banyak perempuan yang merasakan tekanan dalam relasi pribadi dan sosial,” ujar salah seorang penonton usai pementasan, menggambarkan resonansi karakter yang kuat di panggung.
Konteks ini makin relevan dipentaskan berdekatan dengan peringatan Hari Ibu, ketika suara perempuan dan ruang ekspresinya jadi sorotan publik.
Sanggar Pelakon, yang dipimpin oleh Mutiara Sani, membawa pesan kuat tentang kesetaraan gender melalui dialog dan dinamika antar tokoh. Pertunjukan ini tidak hanya menyajikan kisah percintaan; ia mengajak audiens merenungkan kembali struktur relasi dalam rumah tangga dan ruang sosial yang lebih luas. “Kami ingin membuka percakapan tentang dialog, penghormatan, dan keadilan dalam keluarga,” ujar Jose Rizal Manua dalam sesi diskusi setelah pentas.
Pementasan Nabila juga menjadi ajang silaturahmi seni budaya, dihadiri seniman dari berbagai daerah termasuk Randhi Haryaningtyastomo dari Sanggar Seni Panginyongan Banyumas. Kehadiran tokoh budaya dan diskusi yang menyertainya menegaskan posisi teater sebagai medium refleksi sosial sekaligus jembatan wacana antar komunitas kreatif.
Para pemeran lain seperti Ati Cancer, Hendrayan Duryan, Varissa Camelia, dan Ayez Kassar mendapat apresiasi atas penggarapan karakter yang solid dan menghadirkan nuansa emosional yang mendalam di setiap adegan. Aktor dan aktris ini, bersama Ayu Basir Nurdin, menjadikan pementasan Nabila lebih dari sekadar drama panggung, tetapi sebagai pengalaman bersama bagi penonton di Gedung Kesenian Jakarta.
Dengan durasi yang kuat dan pesan yang relevan, Nabila dipandang sebagai salah satu produksi teater penting di akhir 2025, membuka ruang diskusi baru tentang perempuan, hubungan, dan kesetaraan di panggung seni Indonesia.



















